Ketika seorag lulusan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) memilih untuk memperjuangkan masa depan berkelanjutan melalui sains, kebijakan, dan diplomasi energi, kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menjembatani dunia akademik dan perubahan nyata.

Awal Perjalanan & Pendidikan
Fadel Iqbal Muhammad menamatkan pendidikan sarjana (S1) di Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro pada tahun 2018. Semasa kuliah, ia aktif meneliti isu pengelolaan limbah dan keberlanjutan lingkungan, termasuk peran waste bank dan bioreaktor di TPA Jatibarang, Semarang.

Kecintaannya terhadap riset dan kebijakan lingkungan membawanya ke jenjang magister di Wageningen University & Research, Belanda salah satu kampus terdepan dunia dalam bidang ilmu lingkungan. Di sana, Fadel mendalami ilmu Environmental Sciences, khususnya pada aspek efisiensi energi dan mitigasi karbon.

Langkah Profesional & Kiprah Internasional
Setelah menamatkan studinya, Fadel meniti karier di berbagai institusi terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. Ia memulai kiprah internasionalnya sebagai Assistant Researcher di Wetsus, European Centre of Excellence for Sustainable Water Technology, tempat ia meneliti penyerapan karbon di tanah dan proses mikrobiologis untuk peningkatan kualitas lingkungan.

Pengalaman itu berlanjut ke dunia korporasi sebagai Sustainability Analyst di DLL (Eindhoven, Belanda), di mana ia mengembangkan CarbonCalc alat penghitungan emisi karbon yang membantu negosiasi hijau dengan raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft.

Fadel juga bergabung dalam program X!LEAD Graduate Trainee di TU Delft | Corporate Innovation, bekerja sama dengan The Green Village dan perusahaan asuransi CZ untuk mengembangkan teknologi cerdas dan analisis risiko ESG jangka panjang.

Kini, Fadel berkarier sebagai Senior Associate di CLASP, Washington D.C., Amerika Serikat. Ia memimpin pengembangan kebijakan efisiensi energi untuk Kementerian ESDM Indonesia, termasuk penerapan Minimum Energy Performance Standards (MEPS) dan sistem pelabelan energi — langkah yang ditargetkan dapat mengurangi 100 juta ton emisi CO₂e pada tahun 2030.

Selain itu, ia aktif berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan global — mulai dari pemerintah, universitas, hingga NGO untuk memperkuat kontribusi Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.

Pencapaian & Pengakuan
Sejak masa kuliah, Fadel telah menorehkan berbagai prestasi, di antaranya :

  • Most Outstanding Student (2014) di lingkungannya,
  • Top 8 SDGs Essay Competition,
  • Top 6 Indonesia-Netherlands Water Challenge 2016,
  • Best Speaker Linsatemas National Seminar 2018, serta
  • Top 6 ReThink Protein Challenge 2021.

Ia juga telah mempublikasikan riset ilmiah terkait kinerja lingkungan dan keuangan perusahaan serta peran universitas dalam mendorong keberlanjutan.

Filosofi & Pengaruh untuk Almamater
Bagi Fadel, keberlanjutan bukan hanya tentang mengurangi emisi, tetapi tentang menciptakan sistem yang lebih adil dan adaptif bagi masyarakat dan generasi mendatang. Ia percaya bahwa kemampuan teknis dari seorang insinyur lingkungan perlu dipadukan dengan pemahaman kebijakan dan pendekatan lintas sektor.

Melalui perjalanan kariernya, ia memberi teladan bahwa lulusan teknik lingkungan dapat berkiprah di panggung global, berperan dalam diplomasi energi, kebijakan publik, dan inovasi sains yang berdampak nyata.

Harapan & Tantangan ke Depan
Ke depan, Fadel bertekad untuk terus memperluas kontribusinya di bidang efisiensi energi dan kebijakan iklim baik untuk Indonesia maupun komunitas internasional. Tantangan yang dihadapi mencakup kompleksitas regulasi global, kebutuhan data yang kredibel, hingga kolaborasi antarnegara dalam mencapai target net-zero.

Namun, dengan kombinasi keahlian teknis, pemikiran strategis, dan semangat kolaboratif, Fadel menunjukkan bahwa perubahan menuju dunia yang lebih hijau bisa dimulai dari ruang kelas dan berlanjut hingga ruang kebijakan global.

 

Source :
https://lingkungan.ft.undip.ac.id/dari-kampus-ke-kebijakan-global-jejak-fadel-iqbal-muhammad-dalam-aksi-keberlanjutan/